Welcome to Blogster!
720,529 Blogster Users  |  364,642 Posts
 
 
 

tegarrezavie

 

Blog Traffic: 57081

Posts: 16

My Comments: 3

User Comments: 31

Photos: 2

Friends: 0

Following: 0

Followers: 0

Points: 253

Last Online: 859 days ago


 
 

Visitors

No Recent Visitors
 

Perubahan Iklim Dan Dampaknya Terhadap Lingkungan

Added: Thursday, January 17th 2008 at 7:57pm by tegarrezavie
Related Tags: college, education
 
 
 

Perubahan Iklim dan Dampaknya Terhadap Lingkungan

Lingkungan adalah semua yang berada di wilayah eksternal jasmani manusia, di antaranya adalah keadaan fisik, biologis, sosial, budaya, dan semua hal yang dapat mempengaruhi status kesehatan dalam suatu populasi. (Yassi, 2001: hlm. 5). Definisi ini menunjukkan bahwa lingkungan memiliki pengaruh besar dalam menentukan kualitas kesehatan manusia. Lingkungan menjadi salah satu determinan utama dalam teori-teori determinan kesehatan, baik dalam triad epidemiologi, teori Bloom, dan teori Dahlgreen.
Diagram 1. Teori Bloom






Diagram 2. Teori Dahlgreen







Perubahan sedikit saja pada kondisi lingkungan akan mengakibatkan dampak yang besar bagi kesehatan manusia, baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Dekade ini, dunia digemparkan dengan munculnya fenomena perubahan iklim. Beberapa tanda terjadinya perubahan iklim di antaranya adalah tidak menentunya pergantian musim dari penghujan ke kemarau, pola terbang burung, suhu dunia yang semakin memanas, dan sebagainya. Para ahli menyatakan bahwa penyebab utama terjadinya perubahan iklim adalah terjadinya pemanasan global akibat gas rumah kaca (GRK).
Sekarang ini, perubahan iklim menjadi kontributor utama terjadinya kematian dini dan global burden of disease (beban global penyakit). Manusia terekspos dampak perubahan iklim lewat perubahan pola cuaca (misalnya perubahan suhu udara, presipitasi, meningkatnya level permukaan air laut, dan sering munculnya kejadian-kejadian ekstrim seperti badai, dll) dan secara tidak langsung lewat perubahan kualitas air, udara, makanan, dan ekosistem (Confalonieri dkk, 2007: hlm. 393).
Diagram 3. Pengaruh Perubahan Iklim terhadap Kesehatan (Confalonieri dkk. 2007: hlm. 396).












Dari diagram skematis tersebut diketahui bagaimana perubahan iklim dapat mempengaruhi banyak hal, yaitu:
1. Kondisi sistem kesehatan
2. Kondisi sosial [sebagai upstream (arus atas) determinan kesehatan]
3. Kondisi lingkungan
4. Gangguan kondisi ekonomi dan sosial
5. Pajanan langsung dan tidak langsung,
yang pada akhirnya menimbulkan dampak kesehatan.
A. Perubahan Iklim dan Pengaruhnya terhadap Sistem Kesehatan
Perubahan iklim dapat mengakibatkan munculnya berbagai gangguan kesehatan. Serangan heatstroke, kematian akibat tersambar petir, busung lapar akibat gagal panen yang disebabkan perubahan pola hujan, dan gangguan kesehatan lainnya membutuhkan penanganan istimewa, tidak bisa disamakan dengan kejadian penyakit biasa. Oleh karena itu, hal tersebut membutuhkan rancangan sistem kesehatan yang disesuaikan dengan perkiraan dampak perubahan iklim sehingga fasilitas pelayanan kesehatan yang ada mampu menampung, menangani, dan mengendalikan kasus-kasus tersebut.
Ketika perubahan iklim datang, maka kesehatan manusia akan berada dalam ketidakpastian waktu. Kasus bisa terjadi sewaktu-waktu dengan kuantitas dan kualitas dampak yang juga tidak dapat dipastikan. Sistem pelayanan kesehatan akan menemui berbagai macam tantangan yang rumit seperti naiknya biaya pelayanan kesehatan, komunitas yang mengalami penuaan dini, dan berbagai tantangan lainnya sehingga strategi pencegahan yang efektif sangat dibutuhkan. (Menne, B. “Health and Climate Change: A Call for Action”, didownload di http://www.bmj.com/cgi/reprint/331/7528/1283.pdf, 23 Desember 2007, 15:38.)
B. Perubahan Iklim dan Kondisi Sosial
Salah satu contoh akibat perubahan iklim adalah banjir. Banjir yang menenggelamkan tempat tinggal manusia membuat manusia mengungsi. Dalam kondisi darurat seperti itu, akan timbul kepanikan. Selain itu, pada kondisi darurat manusia tidak lagi memikirkan orang lain. Yang menjadi prioritas utamanya adalah bagaimana caranya agar dirinya, keluarganya, dan hartanya dapat diselamatkan. Tidak jarang manusia menginjak hak orang lain asal kebutuhan keluarganya dapat dipenuhi, walaupun hak orang yang diinjak tersebut adalah hak tetangganya.
C. Perubahan Iklim dan Dampak Lingkungannya
Perubahan Iklim terjadi karena perubahan keseimbangan lingkungan. Meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (uap air, CO2, NOx, CH4, dan O3) di atmosfer akibat aktifitas pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia menyebabkan terbentuknya semacam selimut tak tampak mata yang mengurung gelombang panas sinar matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi. Efeknya adalah permukaan bumi semakin memanas dan pada akhirnya memicu perubahan iklim.
Efek yang paling terlihat dari kondisi ini adalah perubahan cuaca. Cuaca adalah kondisi atmosfer yang kompleks dan memiliki perilaku berubah yang kontinyu, biasanya terikat oleh skala waktu, dari menit hingga minggu. Variabel-variabel yang berada dalam ruang lingkup cuaca di antaranya adalah suhu, daya presipitasi, tekanan udara, kelembaban udara, kecepatan, dan arah angin. Sedangkan iklim adalah kondisi rata-rata atmosfer, dan berhubungan dengan karakteristik topografi dan luas permukaan air, dalam suatu region wilayah tertentu, dalam jangka waktu tertentu yang biasanya terikat dalam durasi bertahun-tahun. (McMichael dkk. Ed. 2003. “Climate Change and Human Health: Risks and Responses”. Jenewa, WHO, hlm. 18)
Aktivitas antropogenik lain, diantaranya adalah penggunaan lahan dan berubahnya vegetasi alami juga ikut berkontribusi menyebabkan perubahan iklim. Perubahan vegetasi menyebabkan variasi karakteristik permukaan bumi seperti albedo (kemampuan memantulkan) dan roughness (ketinggian vegetasi) mempengaruhi keseimbangan energi permukaan bumi lewat gangguan evapotranspirasi. Selain itu, perubahan vegetasi juga dapat mempengaruhi suhu, laju presipitasi, dan curah hujan di suatu regional. Bencana alam yang dapat terjadi karena perubahan vegetasi di antaranya adalah banjir, munculnya heatstroke akibat gelombang panas yang tidak diserap karena hilangnya vegetasi alami, tsunami, kekeringan, dll.
Gambar 1. Efek Rumah Kaca (McMichel dkk. Ed. 2003. “Climate Change and Human Health: Risks and Responses”. Geneva, WHO, hlm. 20)


D. Perubahan Iklim Beserta Dampak Langsung dan Dampak Langsungnya terhadap Kesehatan Manusia
Siang yang panas, malam yang panas, dan gelombang panas saat ini semakin sering terasa. Gelombang panas berhubungan dengan meningkatnya kematian. 18 kematian akibat gelombang panas dilaporkan di India antara tahun 1980 hingga 1998. Sedangkan di tahun 2003, tepatnya di Andhra Pradesh, India, serangan gelombang panas menyebabkan 3000 kematian (Confalonieri dkk. 2007: hlm 397).
Selain gelombang panas, banjir juga menjadi ancaman utama bagi kesehatan manusia. Banjir adalah bencana yang dapat berdampak dahsyat, merusak bangunan fisik infrastruktur, organisasi sosial dan kegembiraan manusia. Secara teoritis, banjir adalah hasil dari interaksi dari curah hujan, runoff permukaan, evaporasi, angin, tinggi permukaan air laut, dan topografi lokal. Bencana banjir dan badai mulai muncul dalam 2 dekade ini. Pada tahun 2003, 130 juta jiwa menjadi korban banjir bandang di China. Sedangkan pada tahun 1999, 30.000 orang mati karena badai yang diikuti banjir dan tanah longsor di Venezuela. Di Indonesia, banjir air pasang terjadi di Jakarta Utara dan Tangerang (Mhk, “Walhi Demo, PIK II Tetap Jalan”, Jakarta, Media Indonesia, 30 November 2007, hlm.4). Banjir mengakibatkan kesehatan manusia terancam berbagai penyakit menular dan penyakit mental. Leptospirosis, diare, gangguan saluran pernapasan, scabies, dan penyakit lainnya mengancam warga pasca banjir. Apalagi untuk merekayang tinggal di pengungsian. Tanpa adanya persiapan dan perencanaan yang bagus, tempat pengungsian dapat menjadi episentrum berbagai KLB (Kejadian Luar Biasa).
Perubahan Iklim juga menyebabkan kemunculan dini musim semi serbuk sari di belahan bumi utara. Sangat beralasan jika menyimpulkan bahwa penyakit alergen disebabkan oleh serbuk sari seperti alergi rhinitis seiring ditemuinya kejadian tersebut bersamaan dengan perubahan musim tersebut (Confalonieri dkk. 2007: hlm 402).
E. Perubahan Iklim Beserta Dampak Tak Langsungnya terhadap Kesehatan Manusia
Perubahan Iklim dapat mengubah kualitas air, udara, makanan; ekologi vektor; ekosistem, pertanian, industri, dan perumahan. Semua aspek tersebut memiliki peranan yang sangat besar dalam menentukan kualitas hidup manusia. Perubahan iklim telah menciptakan suatu rangkainan kausalitas kompleks yang berujung pada dampak kesehatan.
Misalnya saja, kualitas dan suplai makanan. Variabel ini sangat dipengaruhi oleh iklim. Bagaimana keteraturan iklim telah membuat petani tahu kapan waktu yang tepat untuk menebarkan benih, memupuk, dan memanen lahannya. Saat iklim berubah, cuaca juga berubah. Kekeringan dan banjir dapat datang sewaktu-waktu. Mungkin petani masih bisa memanfaatkan air tanah. Akan tetapi, seperti telah disebutkan dalam penjelasan sebelumnya, aktivitas antropogenik manusia telah merubah wajah vegetasi bumi. Kualitas dan kuantitas air tanah dan permukaan kini juga berada dalam ancaman. Perubahan cuaca, kelembaban, suhu udara, arah dan kekuatan angin juga mempengaruhi perilaku hama.
IPCC menyimpulkan bahwa bahwa beberapa studi mengindikasikan meningkatnya tekanan panas, kekeringan, dan banjir secara negatif akan mempengaruhi lahan pertanian melebihi dampak perubahan iklim. Hal tersebut juga diperkirakan akan membentuk kemungkinan terjadinya kejutan yang dampaknya lebih luas, muncul lebih awal, lebih daripada yang diperkirakan. Variabilitas iklim dan perubahan juga mengubah risiko terjadinya kebakaran, outbreak patogen dan hama, yang berefek negatif pada ketersedian suplai makanan dan kehutanan.
Dampak lainnya adalah pengaruh perubahan iklim terhadap perilaku vektor penyebab penyakit. Vector borne disease (VBD) adalah penyakit menular yang ditransmisikan oleh gigitan infeksi spesies-spesies arthropoda, misalnya nyamuk, lalat, kutu, kepinding, dan sebagainya. Di timur laut Amerika, ditemukan bukti respons genetik (mikro evolusioner) dari spesies nyamuk Wyeomia smithii untuk meningkatkan jumlah mereka dan mereka dalam dua dekade ini muncul di musim semi lebih awal. Walaupun spesies itu bukan merupakan vektor yang dapat menyebarkan penyakit ke manusia, tetapi spesies ini memiliki hubungan yang dekat dengan spesies vektor arbovirus lainnya yang dimungkinkan mengalami perubahan/evolusi genetis juga. Selain itu perubahan distribusi geografis vektor sandfly dilaporkan terjadi di Eropa selatan. Akan tetapi, belum ada penelitian yang spesifik meneliti kausa perubahan distribusi tersebut. (Confalonieri, dkk. 2007: hlm. 403).
Virus berbasis vektor lainnya yang palin menjadi pusat perhatian seluruh dunia adalah dengue. Beberapa penelitian melaporkan bahwa ada hubungan antara kondisi spasial, temporal, atau pola spasiotemporal terhadap dengue dan iklim. Telah diketahui bahwa curah hujan yang tinggi serta suhu yang hangat dapat meningkatkan transmisi virus ini. Akan tetapi, diketahui juga bahwa kasus dapat terjadi dalam jumlah yang sama di musim kemarau asal terdapat cukup tempat penyimpanan air yang feasibel menjadi breeding site nyamuk (Confalonieri dkk, 2007: hlm. 403).
Kurangnya suplai makanan dan kekeringan diketahui berhubungan dengan meningkatnya risiko kematian akibat kesakitan diare di Banglasdesh. Di Australia diketahui juga meningkatnya risiko bunuh diri oleh petani selama musim kemarau (Confalonieri dkk. 2007: hlm. 399). Diet yang bagus dan suplai makanan yang baik adalah pusat dari kesuksesan promosi kesehatan. Keterbatasan suplai makanan dapat mengakibatkan malnutrisi dan berbagai penyakit akibat defisiensi gizi (Wilkinson dkk. ed. 2003: hlm.26).
Perubahan iklim memiliki hubungan dengan perubahan curah hujan, ketersediaan air permukaan, dan kualitas air yang dapat berpengaruh pada water related disease. Water related disease dapat diklasifikasikan dengan mengetahui jalur pajanannya sehingga dapat dibedakan menjadi water borne disease (ingesti) dan water washed disease (karena kurangnya higienitas). Ada 4 pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi hubungan antara manifes kesehatan dan pajanan oleh perubahan curah hujan, ketersediaan, dan kualitas air:
1. Hubungan antara ketersediaan air, akses air bersih di perumahan, dan beban kesehatan akibat penyakit diare
2. Peran curah hujan ekstrim (lebatnya curah hujan dan kekeringan) dalam memfasilitasi kejadian luar biasa water borne disease lewat suplai air lewat jaringan pipa ataupun air permukaan.
3. Efek suhu dan runoff dengan kontaminasi bahan kimia dan mikrobiologi pada garis pantai, tempat rekreasi, dan air permukaan
4. Efek langsung suhu pada insidens diare.

F. Perubahan Iklim Beserta Dampaknya terhadap Kondisi Sosial Ekonomis.
Perubahan iklim cenderung mengakibatkan bencana. Hal tersebut secara klinis akan mengakibatkan gangguan kesehatan. Selain itu, bencana-bencana tersebut juga dapat melumpuhkan kegiatan perekonomian manusia. Bencana yang merusak bangunan fisik, melumpuhkan sumber daya manusia lewat penyakit, serta dapat mengancam iklim investasi. Hal tersebut dapat mengganggu kondisi sosial dan ekonomi manusia.

STRATEGI PENGENDALIAN PERUBAHAN IKLIM
Secara umum, ada 3 cara yang mulai dikembangkan saat ini untuk mengendalikan karbon, karena karbon adalah domain utama yang menjadi penyebab perubahan iklim. Tiga cara tersebut diantaranya adalah CDM (Clean Development Mechanism), REDD (Reduced Emission from Deforestation on Development Country), dan CCP (Carbon Capture and Storage).
CDM merupakan salah satu mekanisme yang terdapat dalam Protokol Kyoto. Mekanisme CDM merupakan satu-satunya mekanisme yang melibatkan negara berkembang, dimana negara maju dapat menurunkan emisi gas rumah kacanya dengan mengembangkan proyek ramah lingkungan di negara berkembang. Mekanisme ini sendiri pada dasarnya merupakan perdagangan karbon, dimana negara berkembang dapat menjual kredit penurunan emisi kepada negara yang memiliki kewajiban untuk menurunkan emisi, yang disebut negara Annex I. Akan tetapi, mekanisme perdagangan karbon ini mengalami tantangan.
Almuth Ernsting dalam tulisannya yang berjudul “Reduced Emission From Deforestation: Can Carbon Trading Save Our Ecosystem?” mengemukakan fakta bahwa dana hasil CDM memang dialokasikan untuk reboisasi. Akan tetapi, reboisasi yang dilakukan tidak benar-benar dapat mengembalikan ekosistem yang rusak. Selama ini reboisasi yang dilakukan menggunakan monoculture-tree plantations yang artinya dilakukan penanaman kembali lahan yang gundul dengan satu jenis bibit pohon. Hal tersebut dianggap memberikan efek buruk terhadap lingkungan dan komunitas di sekitar hutan yang rusak karena reboisasi yang dilakukan hanya sekedar menghijaukan, tetapi tidak mampu mengembalikan kualitas ekosistem. Oleh karena itu, dia mengusulkan untuk mengintegrasikan CDM dengan REDD. (Ernsting, dkk.“Reduced Emission From Deforestation: Can Carbon Trading Save Our Ecosystem?” di download pada alamat http://www.biofuelwatch.org.uk/docs/Avoided_Deforestation_Full.pdf, pada tanggal 5 Desember 2007 jam 14.00).
REDD adalah cara mereduksi karbon dengan jalan mengatur laju deforestasi. Mekanisme ini sebenarnya tidak mutlak menganggap CDM buruk. Pelaksanaan REDD dapat dilaksanakan bersama dengan pelaksanaan CDM yang sudah berlangsung. Hanya saja, dana hasil CDM sebagian dipisahkan untuk biaya perawatan atau pelestarian hutan yang masih ada. Dalam publikasi ilmiah yang diadakan UNFCCC pada Mei 2007, disebutkan bahwa opsi yang digunakan dikenal dengan sebutan 50-50-50. Artinya, mengurangi laju deforestasi hingga 50% pada tahun 2050 sambil mempertahankan laju deforestasi pada kisaran tersebut diklaim akan menyelamatkan 50 milyar ton emisi karbon. Gambaran ini didapat dengan menggunakan Stern Review. Memang, Stern Review tidak merekomendasikan gambaran nyata apapun dalam mengurangi laju deforestasi. Akan tetapi, Stern menyatakan bahwa dengan tujuan menstabilkan kadar emisi CO2 pada angka 450 ppm, maka akan dicari cara dekarbonisasi yang cepat dan lengkap lewat emisi energi non transportasi,menghentikan deforestasi, dan intensifikasi substansi aktivitas penyitaan aset. Dengan mencoba untuk mengendalikan laju deforestasi masalah mendasar dari pendekatan bak kritis dapat ditutupi. (Ernsting, dkk.“Reduced Emission From Deforestation: Can Carbon Trading Save Our Ecosystem?” di download pada alamat http://www.biofuelwatch.org.uk/docs/Avoided_Deforestation_Full.pdf, pada tanggal 5 Desember 2007 jam 14.00). Sementara itu, Hasil pertemuan di Bali beberapa bulan yang lalu mengisyaratkan bahwa REDD akan fokus pada penilaian perubahan cakupan hutan dan kaitannya dengan emisi gas rumah kaca, metode pengurangan emisi dari deforestasi, dan perkiraan jumlah pengurangan emisi dari deforestasi. Deforestasi dianggap sebagai komponen penting dalam perubahan iklim sampai 2012. Untuk pelaksanaan praktisnya masih belum disepakati. Isu ini diagendakan untuk dibahas di pertemuan selanjutnya yang disebut Badan Tambahan untuk Saran Ilmiah dan Teknis di Bonn, Jerman, pada tahun 2008. (“Ini DiaHasil Bali Road Map”, dari dobelden.wordpress.com/2007/12/15/ IniDiaHasilBaliRoadMap/ , tanggal 25 Desember 2007 pukul 11.37)
Sementara itu, CCS adalah suatu cara mengurangi emisi karbon dengan jalan menyuntikkan karbon dioksida ke perut bumi. Metode ini membutuhkan ruang kosong di perut bumi, bisa juga menggunakan sumur-sumur gas dan minyak bumi yang sudah mengering. Akan tetapi, kendala penerapan teknologi ini adalah mahalnya biaya investasi dan tidak semua orang bisa melakukan transfer teknologi walaupun untuk Indonesia teknologi tersebut mampu mengurangi emisi karbon hingga 20% pada tahun 2005 (Nda, “Menyuntikkan CO2 Terhalang Biaya,” Media Indonesia, tanggal 10 Desember 2007, hlm. 7).
KESIMPULAN
1. Perubahan Iklim dapat mempengaruhi kesehatan manusia
2. Perubahan Iklim juga dapat mengganggu kehidupan sosial dan ekonomi manusia
3. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengurangi emisi karbon, yaitu CDM, REDD, dan CCS.

SARAN
1. Perlu dibangun rencana tanggap darurat jika sewaktu-waktu muncul bencana
2. Perlu dibangun public awareness (kesadaran masyarakat) agar timbul inisiatif mandiri masyarakat untuk meningkatkan ketahanan mereka dalam beradaptasi terhadap kemungkinan buruk terjadinya bencana dan mengembangkan cara-cara mengurangi pajanan bahaya.
3. Sistem kesehatan perlu disempurnakan untuk memaksimalkan peran pelayanan kesehatan
4. Perlu kebijakan yang mengarahkan agar semua sektor mulai beralih dari bahan bakar fosil ke bahan bakar lain yang lebih ramah lingkungan, misalnya menggunakan reaktor nuklir sebagai pengganti pembangkit listrik tenaga uap yang banyak menghasilkan emisi sulfur dan karbon.
5. Dibutuhkan kesepakatan portofolio sebagai landasan komitmen gerakan bersama di semua negara-negara di dunia mengurangi emisi gas rumah kaca

DAFTAR PUSTAKA:
Dobelden, “Ini Dia Hasil Bali Road Map”, dari dobelden.wordpress.com/2007/12/15/ IniDiaHasilBaliRoadMap/ , tanggal 25 Desember 2007 pukul 11.37
Ernsting, dkk.“Reduced Emission From Deforestation: Can Carbon Trading Save Our Ecosystem?” di download pada alamat http://www.biofuelwatch.org.uk/docs/Avoided_Deforestation_Full.pdf, pada tanggal 5 Desember 2007 jam 14.00
Confalonieri, dkk. 2007.’Climate Change 2007: Impacts, Adaptation and Vulnerability’, ed. M.L. Parry, O.F. Canziani, J.P. Palutikof, P.J. van der Linden and C.E. Hanson. Cambridge, Cambridge University Press, hlm. 391-431
Menne, B. “Health and Climate Change: A Call for Action,” http://www.bmj.com/cgi/reprint/331/7528/1283.pdf, 23 Desember 2007, 15:38
Mhk, “Walhi Demo, PIK II Tetap Jalan”, Jakarta, Media Indonesia, 30 November 2007, hlm.4
Nda, “Menyuntikkan CO2 Terhalang Biaya,” Media Indonesia, tanggal 10 Desember 2007, hlm. 7
Wilkinson, R, dkk, ed. 2003. “Social Determinants of Health: The Solid Facts. 2nd edition” Denmark, WHO, hlm. 26.
Yassi, Annalee, dkk. 2001. ‘Basic Environmental Health’. NewYork, Oxford University Pr

User Comments

jie..ngalahin bu sri nih! mantep lah!

wah... artikelnya panjang ya..

yakin, tegar ga dibantuin?? kita ga yakin soalnya.

cie,,, CaMapres tahun 08 dari KL ny! ntar ambil temanya tentang lingkungan You! Btw, yang translete siapa gar?

Btw, gambar teorinya mana ne...?

untung kita tau diagramnya kaya' apa... Kalo yang laen kan ga tau,... .

CoolTongue outSurprised

 

waHhhh....komMentarnya panJang bangetTt sicH Sampe2 Z mau piNgsan Liatin tuh aRtikeL  mU....tP  supah  maTi decH... artikel mU                            keRen BanGet...laEn kaLIiii...buaT lagi ya...z bakalan Tungguin Deh...tp kali2 maSalah yaNG lebiH mEnaRik ya...hee..heee.ya...udaah nanTi z bKlan kasi koMent lG ya...duuuuu...By:rIzQyAsMada_02

woi nak cepe athu nyarinya di sini aja

bisa minta artikel tentang kaitan iklim/cuaca bagi kehidupan manusiai

waa..tegar,ni temen sma_mu...tuker0tukeran refernsi yuk..buat tugas akhir kita...jurusan kita kan sama...

kenalan dulu dunk..

 

huhaaaaaaaaaaaaa.... boleh neeehh ngikutin jejaknya bang tegar..

 

jadi mapress.. ini niih baru yang namanya paper, bentuk paper idaman mbak kifti.. ada kutipan" segala

 

ajarin yak bang tegar..

(bule hohoho)

Post A Comment

This user has disabled anonymous commenting.