Visitors
PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DALAM KESEHATAN LINGKUNGAN
GIS digunakan dalam :
a. Menetapkan populasi studi
b. Mengidentifikasi sumber dan jalur pajanan potensial
c. Memperkirakan level lingkungan target zat pencemar (kontaminan)
d. Memperkirakan pajanan potensial
A. Menetapkan Populasi Studi
Ketika seorang peneliti menentukan populasi studi, mereka sedang menentukan batas sistem untuk proses pendugaan pajanan. Batas sistem menjadi elemen yang penting pada pendekatan modeling sumber-reseptor yang digunakan dalam proses pendugaan pajanan. Data lokasi untuk populasi studi biasanya ditentukan dari unit geopolitik atau penduduk sebenarnya dari populasi studi. Biasanya subjek ditentukan dari registri kesehatan, rekam medik rumah sakit, dan rekaman apapun yang di dalamnya mengidentifikasi kasus atau rate penyakit di suatu wilayah. Saat ini, data-data ini sudah tersedia dalam bentuk digital dan juga banyak yang sudah bersifat georeferenced sehingga bisa langsung ditransfer ke software SIG. Kasus diidentifikasi dandilokalisir dengan pencocokan frekuensi karakteristik dari setiap kasus subjek yang relevan dengan etiologi penyakit, termasuk di dalamnya usia dan jenis kelamin. Kontrol biasanya diambil dari wilayah yang memiliki kondisi geografis umum yang mirip, yang bisa menjadi representasi populasi dasar dari wilayah dimana kasus muncul.
B. Penggunaan SIG untuk Mengidentifikasi Sumber dan Jalur Pajanan Potensial dalam Studi Epidemiologi
Pajanan atau agen dalam penelitian biasanya berupa agen kimia (senyawa tunggal, atau dalam jumlah yang jarang, senyawa kompleks), dan agen fisik (partikulat, kebisingan, radiasi). Sekali agen teridentifikasi, SIG dapat menjadi penolong dalam mengidentifikasi sumber dan jalur potensial pajanan. Identifikasi sumber adalah fungsi kemunculan agen target di spesifik medium lingkungan (udara, air, makanan, debu, dll). Identifikasi sumber memungkinkan penilaian kecenderungan pajanan untuk melintasi populasi studi dan memberikan data pada jalur pajanan yang penting untuk mengkalkulasi nilai pajanan personal dalam analisis risiko.
C. Penggunaan SIG untuk Memperkirakan Level Lingkungan Zat Pencemar dalam Studi Epidemiologi
Pajanan adalah fungsi konsentrasi zat pencemar di lingkungan populasi studi. Metode optimal untuk mengkuantifikasi level agen target adalah dengan melakukan pengukuran kadar agen di lingkungan yang kemudian dihubungkan dengan jalur pajanan potensial selama periode waktu kritis pajanan. Bagaimanapun, kesempatan untuk membuat pengukuran yang demikian ideal jarang sekali ditemui. Oleh karena itu, sebagai alternatif pembuatan prediksi level lingkungan zat pencemar dapat diperkirakan dengan menggunakan model sumber-reseptor (source-receptor modelling). Model berbasis komputer didesain untuk memprediksi level zat pencemar dalam kaitannya dengan point source (mis: cerobong asap) atau nonpoint source (mis: aliran aerialpenyemprotan pestisida) telah tersedia. Seringkali prediksi tersebut digunakan sebagai pengganti untuk pajanan dalam studi epidemiologi. Selain itu, validasi dari perkiraan tersebut menjadi hal yang penting untuk memahami hasil studi. Validasi seringkali mengabaikan proses penilaian pajanan. Padahal proses penilaian pajanan menjadi hal yang penting dalam menggambarkan kondisi lingkungan dalam periode modeling representasi lingkungan selama periode pajanan, dan ini dibutuhkan dalam studi epidemiologi. Secara umum, derajat validasi yang telah disempurnakan adalah fungsi ukuran ketersediaan data untuk periode waktu yang diinginkan. Sebagian besar source-receptor modelling membutuhkan beberapa pengukuran untuk mengkalibrasi prediksi algoritma.
D. Penggunaan SIG dalam Memperkirakan Pajanan Personal pada Studi Epidemiologi
Bahasan kunci dari penilaian pajanan adalah seberapa baik suatu meteran pajanan mampu memperkirakan pajanan pada individu. Pajanan didefinisikan sebagai kontak bahan kimia, fisika, dan biologi dengan batas terluar suatu organisme. Biasanya, peneliti menggunakan GIS untuk mengamati pola aktivitas populasi yang dipelajari, yang secara masuk akal dapat dihubungkan dengan data lingkungan untuk penilaian pajanan. Misalnya, di wilayah mana saja populasi berinteraksi dengan lingkungannya dan agen apa saja yang terdapat di wilayah inteaksi populasi tersebut. Dari sini perkiraan pajanan dapat ditentukan dan diketahui persebarannya.
Referensi:
Using Geographic Information Systems for Exposure Assessment in Environmental Epidemiology Studies
Penulis:
John R. Nuckols, Mary H. Wards, Lars Jarup; Environmental Health Perspective Volume 112 number 9, Juni 2004, hlm. 1007-1015
Email
Print Article
Favorites
Report Abuse
Post A Comment