Welcome to Blogster!
523,431 Blogster Users  |  364,642 Posts
 
 
 

tegarrezavie

 

Blog Traffic: 40133

Posts: 16

My Comments: 3

User Comments: 31

Photos: 2

Friends: 0

Following: 0

Followers: 0

Points: 253

Last Online: 44 days ago


 
 

Visitors

No Recent Visitors
 

Curahan Hati Seorang Calon Ahli Kesehatan Lingkungan

Added: Monday, March 30th 2009 at 3:44am by tegarrezavie
 
 
 

Hah! Hampir 3 tahun  saya menekuni ilmu kesehatan lingkungan di kampus ungu UI (FKM). Yah, saya memang mencintai bidang ini. entah mengapa sedari awal kuliah, hati saya seperti sudah memilih kesling sebagai jurusan tempat berlabuh hati saya. Saya tidak tahu pasti mengapa saya bisa jatuh cinta pada bidang ini. boleh dibilang, saya memilih bidang ini karena disini saya masih bisa mengekspresikan minat saya di bidang sain s di jurusan ini (ketimbang di epidemiologi, bostatistika, AKK, PKIP, apalagi kespro).

3 tahun di jurusan ini membuat saya mengenali banyak disiplin ilmu yang sangat menyenangkan untuk dipelajari lebih jauh: kimia dan biologi dasar, analisis kualitas lingkungan, analisis spasial, sistem informasi geografis, analisis risiko kesehatan lingkungan, toksikologi, karsinogen, mutagen, dan teratogenesis, dan sebagainya. Akan tetapi, just nice to know aja.  Saya enggak belajar dan diarahkan untuk mempelajari satu bidang khusus yang menjadi spesialisasi saya. Mungkin emang disetting seperti itu kali ya biar kita bisa merambah bidang lain di dunia kerja. Tapi kelemahannya, menurut saya, kita tidak diarahkan apa-apa aja yang bisa kita lakukan di dunia kerja. Hasil pengamatan saya yang mungkin sangat subjektif mengatakan bahwa kitadisini hanya memiliki satu view: view akademisi. Jadi, ilmu kita akan sangat berguna untuk menunjang kita sebagai akademisi: mengukur, menilai, menganalisis, menginterpretasi, dan memberikan saran. Yah, memang ada beberapa mata kuliah yang melatih kita untuk merancang langkah-langkah manajemen lingkungan seperti: ARKL yang memberikan kita kemampuan mengambil langkah-langkah manajemen risiko kesehatan lingkungan jika risk quotient agen sudah melebihi satu dengan jalan mengurangi agen, mengurangi konsumsi agen, mengurangi durasi kontak dengan agen, atau langkah ekstrim seperti pindah dari tempat tersebut!;   Perencanaan KL yang memberi kita kemampuan menyusun program berbasis akar masalah.

Akan tetapi, saya terpaksa menelan ludah lebih banyak setelah membaca tulisan Charles Schmidt yang mengutip hasil wawancaranya dengan Christopher Dye, ahli Epidemiologi di Departemen Penghentian TB WHO dan coauthor dari buku “Expanding the Global Tuberculosis Control Paradigm: The Role of TB Risk Factors and Social Determinants” dalam fokus Environmental Health Perspective volume 116 kemarin. Dalam artikel tersebut Christopher Dye mengatakan:

 

“It would be beneficial if these risk factors didn’t exist, but they’re not going to replace prompt drug treatment, which is still the most powerful way to save lives quickly and reduce transmission. Risk factor interventions are useful, but they’re supplementary.”

 

“akan sangat bermanfaat jika faktor risiko ini tidak ada, tetapi mereka (intervensi faktor risiko) tidak akan menggantikan seketika penanganan (TB dengan) obat yang masih menjadi jalan paling ampuh dalam menyelamatkan nyawa dan mengurangi transmisi (TB). Faktor risiko berguna, tetapi sebagai tambahan.”

 

            Artinya: intervensi faktor risiko memang berguna. Tapi “hanya” sebagai suplemen. Hah! Artinya posisi penting ada pada (i) intervensi lewat pengobatan (biasanya disempitkan menjadi wilayah profesi kedokteran); (ii) mereka yang bisa meramu obat (mereka yang menjadi ahli biologi, kimia, dan farmasi). Saya tidak sedang ingin bersaing dengan ahli-ahli disiplin ilmu tersebut karena mereka memang pantas mendapatkan posisi tersebut. Akan tetapi, memang sich bekalan kita sebagai ahli kesling dari strata I Cuma bisa beraksi di situ aja, di bagian intervensi faktor risikonya. Maka dari itu, saya mulai detik ini membulatkan tekad untuk meneruskan pendidikan saya sebagai master science, bisa di bidang kesehatanlingkungan; biologi, kimia, atau malah biokimia? Gud luck for me !! Haha..

User Comments

Post A Comment

This user has disabled anonymous commenting.