Welcome to Blogster!
1,488,120 Blogster Users  |  364,642 Posts
 
 
 

indobahari

 

Blog Traffic: 16376

Posts: 6

My Comments: 0

User Comments: 4

Photos: 3

Friends: 0

Following: 0

Followers: 0

Points: 90

Last Online: 3093 days ago


 
 

Visitors

No Recent Visitors
 

Abalon, Batu Karang, sampai Kapan?

Added: Saturday, July 19th 2008 at 3:10am by indobahari
 
 
 

Hari masih terang menjelang petang ketika La Diy (41), warga Desa Sombano, Kaledupa, Kabupaten Wakatobi, mendayung sampannya menuju lokasi budidaya abalon miliknya. Berjarak sekitar lima ratus meter dari bibir pantai yang surut.

Abalon adalah sejenis kerang yang dikenal juga sebagai mata tujuh. Penduduk Kaledupa menyebutnya tokonubeka. Bentuknya oval berkulit keras dengan ukuran panjang tujuh sentimeter untuk usia dewasa.

Bagi warga Desa Sombano, seperti halnya La Diy, sejak delapan tahun terakhir hewan laut yang hidup di balik bongkahan karang itu, sungguh sangat istimewa.

Setiap sore, puluhan bahkan ratusan warga desa, dari kakek-kakek hingga anak usia sekolah dasar, bersampan agak ke tengah laut membolak-balik karang mencari abalon.

Bagaimana tidak? Di tengah keterbatasan pendapatan keluarga, satu kilogram daging abalon yang telah direbus dan dikeringkan dihargai Rp 200.000 per kilogramnya. Memancing di laut? Belum tentu membawa hasil setengah dari itu.

Menurut penuturan warga, setiap harinya pengepul abalon datang ke desa. Setidaknya, setiap pengepul mengeluarkan uang Rp 1 juta untuk membeli abalon-abalon tangkapan warga. Tak peduli masih kecil atau sudah dewasa, abalon yang ditemui langsung diambil warga.

Bagi warga Desa Sombano, abalon adalah kepastian pencaharian di tengah peluang kerja yang sangat terbatas. Abalon juga alternatif pendapatan bagi para nelayan dan petani rumput laut.

Karena sifatnya itu, tak mudah mengubah perilaku warga mencongkel karang, yang secara hukum jelas bertentangan. Tak peduli karang mati atau hidup, demi rupiah, semua dicongkel.

"Kami tahu dilarang, tetapi di mana lagi kami mencari?" kata Napsiah (33), ibu lima anak. Suaminya, sebagaimana pilihan para pemuda dan orang tua di Kaledupa, baru saja mengadu nasib sebagai TKI di Malaysia.

Setiap sore, minimal dua jam Napsiah bergabung dengan puluhan ibu-ibu membolak-balik karang pada kedalaman sekitar satu meter.

"Saya makan yang kecil, yang besar saya jual," kata dia. Dengan cara itulah ia menghidupi keluarganya sambil menunggu kiriman uang dari suami.

Seperti itulah pola hidup warga Sombano pada umumnya. Diperkirakan, 99 persen dari 604 jiwa (155 keluarga) di Sombano bersentuhan dengan abalon.

Akan tetapi, sejak delapan tahun itu pula, hanya La Diy yang berinisiatif membudidayakan abalon. Bersama empat tetangganya yang tergabung dalam Kelompok Tani Sambua, mereka mencoba membudidayakan abalon pada lahan 9 x 9 meter.

Di petak itu, sebanyak 30 abalon beraneka ukuran ditebar sekitar dua bulan lalu. "Targetnya mencoba seratus ekor, tapi baru mampu 30 ekor," kata ayah lima anak yang pernah merantau tujuh tahun di Singapura itu.

Meskipun sederhana, La Diy mengaku tidak akan dapat membuat pembudidayaan tanpa bantuan. Ia mengaku dibantu pihak Balai Taman Nasional Kepulauan Wakatobi (TNKW) berupa jaring senilai Rp 800.000 sebagai pagar.

Bibit berupa abalon ia beli sendiri dari warga. Batu karang sebagai tempat persembunyian, tinggal ambil dari dasar laut.

Upaya lebih maju dalam mengelola sumber daya alam Kelompok Tani Sambua, murni inisiatif mereka, tanpa bimbingan atau penyuluhan. Pengajuan agar diberi penyuluhan hingga kini belum memperoleh tanggapan. Penelitian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) hingga akhir Mei 2006 lalu juga belum ada hasilnya.

"Saya hanya bermodal pengalaman menebar abalon di lahan rumput laut saya dan ternyata hidup. Sekarang saya ingin lihat populasinya bila dibudidayakan," kata dia lagi.

Ia berniat kembali merantau bila tidak ada perkembangan terkait budidaya abalonnya itu.

Cara mudah

Selain ditemui di wilayah Pulau Kaledupa, pola eksploitasi sumber daya alam (SDA) juga ditemui di gugusan karang Nokoi di wilayah perkampungan Suku Bajo, Pulau Wangi-Wangi. Di sana, secara rutin warga sekitar mencongkel karang untuk dijual sebagai bahan bangunan, khususnya sebagai fondasi rumah.

Menurut penuturan warga yang hidup dari batu karang itu, harga per meter kubiknya di tangan penampung Rp 20.000 hingga Rp 30.000.

Seperti diungkapkan staf Pengawasan Sosial Ekonomi The Nature Conservancy (TNC) Saleh Hanan, tak sedikit pencongkel batu karang adalah para janda yang menyewa sampan untuk aktivitasnya itu.

Penghasilan dari aktivitas yang dilarang hukum itu, kemudian dipotong untuk biaya sewa sampan senilai Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per harinya.

Meskipun begitu, sering kali tak ada pilihan lain untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Pada kunjungan wartawan di gugusan karang Nokoi di Desa Liya Mawi, Pulau Wangi-Wangi, setidaknya tiga perahu layar bergegas bergerak menjauh begitu melihat kapal cepat dan bunyi klakson sebagai tanda akan mendekat. Sebagian terlihat melemparkan bongkahan karang dari dalam perahunya.

Akan tetapi, "sial" bagi Gapa (60-an). Ia tidak sempat pergi. Ketika kapal mendekat, ia baru saja menyembul dari bawah air. Kacamata renang dari kayu, khas Bajo, masih melekat.

Di sampannya, bongkahan batu karang menumpuk. Batangan besi runcing juga ada di dalamnya. Ia berdalih, "Ini untuk bangun rumah anak saya".

Tak lama kemudian, ia mengaku bahwa batu-batu itu laku dijual Rp 25.000 per meter kubiknya. Sehari-hari, ia mengaku sebagai nelayan jaring dan pancing.

Soal makin banyaknya batu karang yang diambil dari dasar laut sudah jelas. Kini, rumah-rumah panggung khas Bajo, sejak tahun 1980-an lalu telah berfondasi batu karang.

Bupati Wakatobi caretaker AM Madra mengatakan, pemerintah daerah sebenarnya mentolerir pengambilan batu karang dari dasar laut di Liya Mawi. Akan tetapi, aktivitas itu diarahkan pada alur lalu lintas laut menuju dermaga.

Di lapangan, warga mencongkel karang di mana saja. Aktivitas itu berisiko konflik horizontal.

Nelayan dari Desa Liya Mawi, yang sehari-hari menangkap ikan dari bubu merasa terganggu. Ikan karang semakin sulit didapat karena rumah mereka berkurang.

Akibatnya, pada awal Juni 2005, nelayan Liya Mawi menangkap basah 22 pencongkel karang yang hampir semuanya orang suku Bajo. Hasil negosiasi akan mendenda mereka.

Akan tetapi, setelah difasilitasi pihak DPRD setempat, terdakwa dilepas dengan catatan tidak mencongkel lagi. Kini, aktivitas itu dengan mudah ditemui di gugusan karang Nokoi.

Tanpa pilihan

Mendata jenis dan pola eksploitasi SDA di Kepulauan Wakatobi seperti tak berujung. Hal itu tidak lepas dari minimnya peluang kerja di luar eksploitasi.

Di sisi lain, potensi pariwisata dan perikanan sungguh luar biasa. Akan tetapi, justru sebagian besar yang menarik manfaat dari sana adalah orang-orang luar Wakatobi atau bahkan investor asing.

Pemerintah daerah sendiri belum mampu mengembangkannya. Bahkan, secara jujur Bupati AM Madra menyatakan bila pihaknya belum memiliki data potensi wilayah.

Hingga kini anggaran pun belum cair, yang disebabkan status pimpinan daerah yang belum definitif. Organisasi pemerintahan pun belum tertata sebagai sebuah sistem.

Sementara, kehidupan warga terus berjalan dengan segala pernak-perniknya. Di Kaledupa, La Diy tekun dengan inisiatif kelompoknya di tengah eksploitasi. Di Wangi-Wangi, pusat pemerintahan kabupaten, batu karang dan pasir terus diambil. Entah sampai kapan.

sumber

Gesit Ariyanto

http://64.203.71.11/kompas-cetak/0607/26/humaniora/2837132.htm

User Comments

Post A Comment

This user has disabled anonymous commenting.